Semula, judul di atas hampir muncul sebagai “SMS: simple but powerful”. Idenya memang dari situ, semoga versi Indonesia-nya tidak membuat maknanya banyak bergeser.
Short message service alias SMS, disebut sederhana, tentulah bermakna relatif. Sederhana dalam hal apa? Inovasi teknologi yg diyakini berasal dari karya/gagasan Matti Makkonen (Finlandia) ini mulai dimasukkan dalam standar telekomunikasi GSM di tahun 1985. Selanjutnya SMS juga diadopsi oleh teknologi seluler lain. Hanya teknologi seluler analog yang tidak mampu menyerap inovasi ini, salah satunya AMPS (di awal pemunculan telepon seluler Indonesia, AMPS sempat berkompetisi dengan GSM, tetapi hanya bertahan beberapa tahun). Teknologi SMS memerlukan integrasi protokol-protokol pada teknologi radio, data dan jaringan. Jadi, meski mudah (sederhana) dalam pemanfaatannya, SMS jelas bukan teknologi sederhana. Bibanding dengan telpon kabel, aspek engineering-nya jauh lebih luas. Kini, lebih dari 2 milyar pengguna handphone menggunakan layanan murah ini.
Bagi sebagian besar orang penggunaan layanan SMS tidaklah sulit (baca: sederhana). Biayanya pun, sangat murah. Ada yg gratis bahkan (segera dilarang pemerintah?). Namun, murah dalam hal tarif tidak berarti SMS hanya bernilai recehan bagi operator telepon seluler. Tahun 2004 detik.com melaporkan adanya operator seluler di Filipina yg mampu mengeruk profit 40% dari total profitnya lewat SMS. Telkomsel, termasuk dalam data itu, memperoleh seperlima profitnya dari SMS. Tahun 2010, pengguna SMS diprediksi akan memberi keuntungan $72,5 milyar bagi operator.
… some words will be added soon …

1 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
12 Februari 2009 pada 11:27
starwrite
Wah itulah hebatnya sms..kecil2 bisa jadi bukit..tapi hasilnya emang bermanfaat kok..hehe